Kembali ke Berita Terkini

07 July 2026

Kisah yang Terlupakan di Balik Setiap Santapan

Di balik setiap makanan yang tersaji, ada perjalanan panjang yang sering luput dari perhatian. Melalui Masa Depan Pangan (MAPAN), CIPS menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk mengenal kisah para pejuang pangan Indonesia dan memahami peran mereka dalam membangun masa depan pangan.

Kisah yang Terlupakan di Balik Setiap Santapan

Makanya, kata Mama, jangan sisakan makanan. Ada banyak orang yang berjuang agar makanan bisa sampai ke piring kita!

Ucapan tersebut adalah salah satu memori yang mencuat di sudut Pameran Foto Suara MAPAN. Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin hanya terdengar seperti nasihat sederhana yang kerap diucapkan orang tua di meja makan. Namun, di balik kesederhanaan teguran tersebut, tersimpan makna yang lebih luas, bahwa sepiring nasi yang kita nikmati setiap hari merupakan hasil dari jerih payah, ketekunan, serta harapan para petani dan nelayan.

Hal inilah yang menjadi nyawa dari inisiatif MAPAN (Masa Depan Pangan) oleh Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) untuk mendorong dialog lebih luas mengenai kesejahteraan dan masa depan petani dan nelayan di Indonesia. Melalui kegiatan BEKAL MAPAN (Bersama Kawal Masa Depan Pangan) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 22-23 Mei 2026, masyarakat, pemerintah, peneliti, petani, nelayan, serta generasi muda bertemu untuk bersama-sama melihat, mendengar, dan memahami tantangan yang dihadapi oleh para pejuang masa depan pangan di Indonesia.

Lahan Pertanian dan Laut yang Dikekang

Bekal MAPAN mengajak pengunjung untuk menyelami kehidupan para petani dan nelayan sekaligus ikut memahami berbagai sisi perjuangan mereka melalui Pameran Kisah “Suara MAPAN”. Lewat hasil bidikan lensa, CIPS menampilkan potret para pejuang pangan Indonesia, lengkap dengan profil, kisah hidup, hingga perasaan yang mereka tinggalkan dalam bentuk tulisan.

Pameran ini mengajak para pengunjung untuk ikut merasakan perjalanan hidup sosok-sosok yang selama ini berperan dalam mengisi piring di atas meja makan kita. Setiap bingkai menjadi pengingat bahwa di balik piring yang terisi makanan, ada perjuangan yang sering kali tidak terlihat.

Ada lebih dari 15 kisah petani dan nelayan di berbagai pulau di Indonesia Sabang, Kalimantan, Jawa, dan Pulau Pari yang diangkat di Galeri Cipta 2, Taman Ismail Marzuki. Leha, seorang perempuan pesisir dari Pulau Pari, telah hidup berdampingan dengan laut sejak kecil. Ia membantu aktivitas melaut bersama suaminya, namun perannya tidak pernah diakui sebagai nelayan karena lebih sering dianggap hanya sebagai ibu rumah tangga.

Kini, di usia yang hampir lanjut dan dengan keterbatasan fisik akibat sakit lutut, Leha tetap berjuang menghidupi keluarganya, termasuk membiayai kebutuhan anaknya yang berkebutuhan khusus. Setelah suaminya meninggal, ia bertahan hidup dengan mengelola homestay sederhana dan merawat bibit mangrove. Baginya, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi bagian dari perjalanan hidupnya yang hingga kini belum memberinya pengakuan yang setara.

Perempuan juga seharusnya diakui sebagai nelayan supaya bisa dapat bantuan. Bapak-bapak dapat jaring, perempuan? Tidak.

Akibatnya, di usianya yang sudah senja, Leha masih harus kembali ke lautan untuk mencari kerang demi menghidupi dirinya dan anak bungsunya yang berkebutuhan khusus.

Selain kisah Leha, lensa CIPS juga menangkap perjalanan Elradhie, seorang petani muda dari Banda Aceh. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Elradhie kembali ke kampung halaman untuk meneruskan mimpinya di atas ribuan meter lahan hortikultura. Bagi Elradhie, menjadi seorang petani tidak hanya tentang menunggu waktu panen. Terdapat proses panjang yang jarang disoroti di baliknya, mulai dari membaca pasar hingga beradaptasi dengan perubahan kebijakan. Biarpun begitu, Elradhie percaya bahwa harapan besar pun dapat tumbuh tinggi di atas kebun yang kecil.

Pengunjung di depan potret perjalanan Leha

Harapan di Antara Benih Padi

“Petani itu untuk hajat hidup orang banyak. Bahkan, selagi masih ada orang hidup, petani akan tetap berjalan. Petani itu sosok manusia tangguh. Gagal panen, nanem lagi,” ujar Sardi, petani asal Kabupaten Bekasi yang kisahnya diangkat dalam film dokumenter CIPS berjudul Besok Kita Nanem Lagi.

Ditayangkan perdana dalam acara Bekal MAPAN, Besok Kita Nanem Lagi  mengikuti kehidupan dua petani lintas generasi dari Jawa Barat, Sardi dan Ryan. Melalui sudut pandang keduanya, film dokumenter ini mengajak penonton melihat dan mendengar langsung kehidupan petani, mulai dari aspirasi dan tantangan mereka, juga semangat wirausaha yang membuat mereka bertahan dan berkembang di tengah tekanan yang mereka rasakan dari kebijakan, stigma masyarakat, dan dampak pembangunan daerah. 

Pemutaran film “Besok Kita Nanem Lagi”

Selama dua hari penayangan di Teater Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, film ini  disaksikan oleh lebih dari 150 penonton. Kisah tentang harapan, keraguan, dan perjuangan yang menyertai kehidupan Sardi dan Ryan membuka ruang refleksi mengenai kehidupan petani yang sering kali tidak terlihat.

Bagi sebagian penonton, film ini memberikan perspektif baru tentang tantangan yang dihadapi petani. Salah satu penonton yang juga berprofesi sebagai petani menyampaikan bahwa realitas yang dihadapi banyak petani bahkan bisa lebih berat daripada yang tergambar di layar.

Tidak berhenti di Jakarta, Pemutaran Besok Kita Nanem Lagi juga berlangsung di Semarang, Makassar, Aceh, Sumedang, dan Surabaya. Berkolaborasi dengan komunitas lokal, CIPS membuka ruang bagi lebih banyak masyarakat untuk ikut menyaksikan dan memahami realitas yang dihadapi petani Indonesia.

Merajut Jaring Masa Depan


Diskusi dalam “Sistem Kuota Pengelolaan Perikanan: Perlukah Demi MAPAN?”

Lebih dari menyuarakan suara para Pejuang Pangan, MAPAN juga diharapkan menjadi wadah suara bagi semua masyarakat untuk memperjuangkan masa depan pangan Indonesia melalui dialog bersama para ahli, peneliti, dan pelaku pangan melalui sejumlah sesi diskusi selama dua hari acara.

Dalam sesi “Sistem Kuota Pengelolaan Perikanan: Perlukah Demi MAPAN?”, Jan Tuheteru dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyoroti tantangan dan ketidakadilan yang dihadapi oleh nelayan kecil, termasuk kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak kepada mereka. Menurutnya, aspek inklusivitas perlu menjadi pertimbangan penting dalam merumuskan kebijakan pengelolaan perikanan.

CIPS juga mengangkat peran perempuan yang kerap luput dari perhatian dalam sistem pertanian Indonesia melalui sesi “Melampaui Sekat Dapur: Ruang Gerak Perempuan untuk Masa Depan Pangan” bersama Yayasan Usaha Mulia dan Syngenta Indonesia. Diskusi ini menekankan bahwa pemberdayaan perempuan merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem pangan yang kuat, karena ketahanan pangan tidak dapat dicapai tanpa melibatkan seluruh pihak yang berperan di dalamnya.

Melalui Bekal MAPAN, CIPS berharap dapat memperluas ruang bagi suara petani, nelayan, dan kelompok yang selama ini kurang terlihat untuk turut membangun masa depan pangan Indonesia. Sebab, sistem pangan yang berkelanjutan dan inklusif dapat terwujud melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta dalam menghadirkan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan di lapangan.


Share ke Media Sosial:

✓ Link berhasil disalin!