Di atas barisan bambu yang mulai lapuk, Adis terduduk. Hembusan angin masuk pelan dari sela-sela lembaran kayu yang memagari saung itu. Suara Adis pelan, nyaris seperti berbisik, pandangannya lebih sering jatuh ke tangannya sendiri, dan sibuk merapikan posisi duduknya yang sebenarnya sudah cukup nyaman.
Gugupnya mereda saat ia mulai bercerita, Adis tidak sungkan melontarkan celetukan-celetukan yang jujur, apa adanya, diikuti dengan gelak tawa yang meluruhkan suasana.
Seperti banyak orang di kampungnya, bertani bukan karir yang ia pilih, melainkan cara hidup yang ia tahu, pekerjaan yang jadi bisa karena terbiasa.
Menjadi petani adalah pekerjaan yang ia lakukan secara turun temurun, dari kakeknya, bapaknya, hingga dirinya sendiri. Tidak ada pilihan karir lainnya, karena ia bahkan tak punya ijazah SD.
Adis mulai bertani dari kasta terendah yaitu sebagai kuli nyeblok atau petani harian yang mengurus lahan orang lain. Adis menitipkan loyalitas dan tenaganya ke Kaliaget Organic Farm selama hampir 20 tahun, upahnya cukup untuk makan dan menyekolahkan kedua anaknya sampai tamat SMA.
Sayangnya, kerja keras itu perlahan menggerus tubuhnya yang mulai renta, karenanya ia memutuskan untuk berhenti mengabdi pada lahan 20 hektare milik Kaliaget Organic Farm. Sementara untuk bertahan hidup, Adis menggunakan sisa tenaganya mengelola 6 are sawah. Meski bukan tanah miliknya sendiri, Ia memberanikan diri memulai usaha tani dengan sistem “maro”.
Kata “maro” diambil dari kata “separuh” (separo dari bahasa Sunda). Dalam sistem maro, petani akan membagi separuh penghasilannya ke pemilik lahan sebagai uang sewa lahan.
Adis memang sudah hatam kapan lahan perlu digemburkan, musim apa yang cocok untuk menyemai bibit, dan kapan gabah baik dipanen. Tapi, pengalaman maro mengajarkan Adis tentang sisi lain bertani, yaitu berwirausaha. Ia menyadari menjadi petani bukan cuma soal bercocok tanam, tapi juga perlu mengusahakan banyak modal. Dari modal finansial hingga modal nyali.

Padi di sawah garapan Adis sebentar lagi siap dipanen, kerja keras selama 3 bulan terbayar, namun di balik rasa syukur ada cemas yang menyelimuti Adis karena hama bisa tiba kapan saja.
Dimulai dari musim tanam, Adis harus mencari modal finansialnya, meskipun ia menggunakan pupuk subsidi yang lebih murah daripada pupuk swasta, kalau modalnya nol rupiah, terpaksa ia harus berutang pada tengkulak untuk membeli pupuk, benih, menyewa tenaga kerja, dan alsintan saat panen.
Untuk kegiatan bertani lainnya seperti proses pembibitan, ia hanya berharap tubuhnya cukup kuat untuk menanami sawah dengan cara tradisional, menancapkan bibit padi satu persatu dengan tangannya sendiri.
Bisa saja Adis menggunakan alat pertanian atau mempekerjakan petani harian saat menanam bibit, tapi alokasi dana itu hanya jadi beban tambahan untuk Adis yang modalnya pas-pasan. Tangannya yang mulai mengeras penuh kapalan dan garis kerutan, kulitnya yang semakin gelap, itulah modal tenaganya, selagi masih bisa menanam, ia akan terus bertahan di lahan, beradu dengan teriknya matahari yang menusuk hingga ke tulang.
Ia biasa menyewa “komben” mesin combine harvester, alat perontok padi beserta tenaga kerja saat panen. Tapi, jasa tenaga komben baru bisa dibayarkan setelah hasil panen gabahnya laku terjual. Lalu, jika gagal panen, Adis hanya bisa mencatat pengeluaran itu sebagai utang tambahan, dan jasa komben baru bisa dibayarkan pada panen berikutnya.

Mesin combine harvester yang biasa disewa Adis, para petani harus giliran menyewa mesin ini, karena ketersediaan alat dan jasa kuli operator yang terbatas.
Sebenarnya pemerintah sudah menyediakan program bantuan alsintan pertanian seperti traktor yang diatur dalam UU No. 19 Tahun 2013, namun sejak ia memiliki kartu tani, hingga kartu tani itu tidak berlaku lagi, Adis tak pernah merasakan dampaknya,“Yang dapat mah orang-orang yang sawahnya lebar, yang kaya model kita mah dicuekin, boro-boro!” keluh Adis.
Alat-alat dari pemerintah biasanya disalurkan lewat gabungan kelompok tani (GAPOKTAN) dan dikelola oleh anggotanya. Tapi, sebagai petani kecil, Adis merasa tidak pernah dilibatkan dalam satuan organisasi petani manapun.

Di tangan Adis, dedaunan layu itu menjadi tanda nyata serangan hama yang bisa menentukan nasibnya sampai masa panen berikutnya.
Kalau sudah berurusan dengan gagal panen, Adis harus bergantung pada modal terakhir, modal nyali. Karena, Ia tidak pernah benar-benar tahu apakah lahannya akan memberikan untung yang setara dengan kerja kerasnya, “Alhamdulillah, ya mau gimana lagi sudah takdir, risiko pasti ada. Kadang bisa panen bagus, bisa juga gagal” katanya memasrahkan diri pada sang Maha jika harus mendapati gagal panen.
Gagal panen terbesar bagi Adis terjadi beberapa tahun lalu, awal-awal mencoba maro pada 2 petak sawah yang harusnya bisa menghasilkan 15 hingga 30 karung besar (setara dengan 3 - 4 ton gabah) digerogoti tikus dalam satu malam. Pesta tikus itu hanya menyisakan 15 kilogram gabah yang teksturnya hancur, kopong, dan menghitam, tidak lagi bernilai.
Mengenang masa kelam itu, dengan enteng Adis mengatakan "Ya enggak usah dipikirin. Biarin aja enggak dipikirin, nanti jadi penyakitan…” katanya, lagi-lagi pasrah menanggung beban itu.
Hama memang biasa muncul di sawah dan Adis paham betul solusi menangani berbagai macam hama. Tapi Adis mengaku, baru kali ini ia merasakan gangguan hama yang jumlahnya semakin lama, semakin banyak.
Ini bukan hanya kebetulan atau semata-mata akibat perubahan iklim. Masalahnya jelas, industrialisasi di Karawang yang semakin luas perlahan mengganggu ekosistem alami area sawah.
Alih fungsi lahan dari pertanian ke kawasan industri dan perumahan jadi penyebab utama predator alami seperti ular sawah dan burung hantu perlahan lenyap. Ini membuat para tikus bebas bermigrasi ke sawah, hingga kupu-kupu putih yang merusak batang, lembing yang menyerap sari padi, dan lintang yang datang saat bulan terang tiba-tiba bermunculan.
Di musim yang baik-pun, setelah hasil panen dipilih, ditimbang, dan dijual pada tengkulak, Adis melunasi utang modalnya, dan sisa hasil panen dibagi dengan pemilik lahan. Ujung-ujungnya untung Adis paling hanya 3,5 juta rupiah, tidak sampai UMK Karawang.
Sebenarnya Adis ingin menjual hasil taninya ke Bulog, tetapi keterbatasan akses, dan tidak punya kenalan membuat ia terpaksa menjual hasil panennya ke tengkulak.

Di teras rumahnya, Adis menghamburkan sisa gabah ke lantai, menguliti gabah dengan kakinya sebagai alternatif penghasilan tambahan.
Untuk menambah penghasilannya, Adis akan mendatangi lahan-lahan petani besar yang baru merontokkan gabah, meminta izin untuk memunguti sisanya yang masih layak, menguliti gabah kering, dan menjual hasilnya dengan harga yang lebih murah.
Adis berharap, dengan ketidakpastian panen dan cuaca yang semakin tak menentu, bantuan pemerintah baiknya berupa uang yang langsung saja disalurkan ke petani “Uang itukan benar-benar ke maro (untuk bertani), jadi kekurangannya kita bisa tambah nggak terlalu banyak.” jelas Adis.
Solusi ini berangkat dari ketidakmampuan Adis mengakses kredit usaha rakyat (KUR), keterbatasan pendidikan membuat ia takut menggunakan bank dan merasa tak perlu punya tabungan, karena memang tidak ada uang yang bisa ditabung.
Meski penghasilannya bahkan tak menutupi kehidupan sehari-hari, Adis tetap mensyukuri profesinya sebagai petani. Dalam kegigihannya terselip mimpi untuk memiliki sawahnya sendiri, lebih jauh lagi Adis bermimpi untuk menapakkan kaki ke tanah suci. Karena Adis percaya ketabahan, rasa syukur, dan keikhlasan hatinya yang selama ini membuat ia bertahan sebagai petani diberikan oleh Sang Pencipta.
Penutup Reflektif
Intervensi pemerintah dalam industri pertanian seperti subsidi pupuk dan pemberian bantuan alsintan merupakan pendekatan yang baik, tapi belum sesuai dengan kebutuhan mayoritas petani kecil seperti Adis. Pemerintah perlu mengkaji ulang anggaran bantuan pemerintah dan pengalokasiannya agar lebih sesuai dengan kebutuhan petani.
Kembali