Mimpi Besar dari Bukit di Pinggir Laut
Kembali

Mimpi Besar dari Bukit di Pinggir Laut

Berawal dari keresahan melihat ikan terbuang dan dijual murah, Yuni membangun Anugerah Food agar hasil laut Sabang bisa memberi kehidupan lebih sejahtera bagi masyarakat sekitarnya.

Martya Litna
19 May 2026

Siang hari itu dari jendela dapur Anugerah Food, laut Sabang terlihat biru tua dan tenang. Rumah produksi itu berdiri di atas bukit kecil, menghadap langsung ke laut. Angin asin masuk pelan dari sela jendela. Di halaman depan, bunga-bunga tumbuh penuh warna, membuat tempat itu terasa lebih seperti rumah dibanding pabrik kecil pengolahan ikan.

Tidak ada produksi hari itu. Tidak ada suara mesin penggiling. Tidak ada aroma adonan yang sedang dimasak. Hanya deretan freezer di sudut ruangan, beberapa alat produksi, dan kemasan produk yang tersusun rapi.

Dengan kerudung biru mudanya, Yuni berjalan pelan memperlihatkan isi ruang produksi itu satu per satu. “Itu freezer untuk simpan ikan,” katanya sambil menunjuk deretan pendingin di sisi ruangan.

Ia lalu bercerita bagaimana biasanya ikan dibersihkan di pasar sebelum dibawa ke Anugerah Food. Setelah itu ikan dimasukkan dulu ke freezer agar tetap segar sebelum digiling dan diolah menjadi bakso, abon, otak-otak, atau kerupuk ikan. “Kalau ikan udah panas sikit, rusak,” ujarnya.

Di salah satu sudut dapur, ada kompor besar untuk memasak adonan dalam jumlah banyak. Ada alat penggiling dan beberapa peralatan produksi sederhana yang menurut Yuni masih jauh dari cukup. Sebagian proses pengemasan bahkan masih dilakukan manual menggunakan sealer panas. “Kita kalau (mesin) vakum ada, cuma terlalu kecil,” katanya.

Yuni sedang mengemas produk kerupuk

Di dinding ruang produksi, beberapa aturan kerja dan SOP ditempel rapi. Yuni menyusun semuanya sendiri untuk memastikan kualitas produknya tetap terjaga. Dari tempat sederhana di atas bukit itu, Yuni membangun sesuatu yang dulu nyaris tidak terpikirkan oleh banyak orang di Sabang yaitu bagaimana mengolah hasil laut menjadi produk bernilai lebih tinggi. Semua bermula dari keresahan yang sederhana. “Semangatnya munculnya itulah karena banyak ikan di sini banyak ikan terbuang gitu.”

Bertahun-tahun lalu, Yuni melihat ikan marlin di Sabang dijual sangat murah. Kadang hanya Rp15.000 sampai Rp18.000 per kilo. Banyak yang akhirnya dibawa mentah keluar daerah. Sebagian bahkan tidak laku. Di sisi lain, hampir tidak ada yang mencoba mengolahnya. “Di sini yang olah-olah ikan tuh tidak ada.”

Padahal Sabang punya laut yang melimpah. Namun seperti banyak wilayah pesisir lain di Indonesia, hasil tangkapan sering berhenti hanya sebagai komoditas mentah. Nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar daerah. Hal ini membuat Yuni berpikir kalau daerah lain bisa mengolah hasil laut menjadi berbagai makanan, kenapa Sabang tidak?

Tahun 2013, ia mulai merintis Anugerah Food setelah mengikuti pelatihan dari Dinas Perikanan. Ia belajar dari instruktur di Bogor, lalu melihat langsung pengolahan hasil laut di Sidoarjo dan Surabaya. Dari situlah pikirannya terbuka.

Ia mulai mencoba membuat bakso ikan dan abon tuna di dapur rumahnya sendiri. Tapi perjalanan itu jauh dari mudah. “Tantangan itu produk itu enggak sekali jadi.”

Berkali-kali ia gagal. Kadang tekstur bakso rusak. Kadang hasil olahan tidak sesuai harapan. Dengan modal yang terbatas, ia harus mencoba lagi dan lagi sambil mencari referensi dari internet. “Nanti kita coba lagi, gagal lagi.”

Namun Yuni tidak berhenti di satu produk saja. Ia terus mencoba membuat olahan lain. Sedikit demi sedikit, Anugerah Food berkembang menjadi usaha dengan sekitar 25 jenis produk, termasuk 20 produk frozen. “Inovasi kita lihat-lihat di internet.”

Hari ini, produk Anugerah Food dijual di swalayan kecil, reseller lokal, hingga pameran seperti Sabang Fair. Bakso ikannya saja bisa terjual sekitar 200 kilogram per bulan dari pasar offline di Sabang. Namun, semakin besar usahanya, semakin terasa pula tantangan yang harus dihadapi.

Masalah terbesar Yuni sebenarnya bukan soal pasar. Produknya selalu habis terjual. Hambatan utamanya justru ada pada fasilitas dan rantai pasok.

Masalah terbesar Yuni sebenarnya bukan soal pasar. Produknya selalu habis terjual. Hambatan utamanya justru ada pada fasilitas dan rantai pasok.

Pasokan ikan di Sabang sangat bergantung pada cuaca. Saat angin besar datang dan nelayan tidak melaut, bahan baku menjadi sulit didapat. Di saat yang sama, banyak toke bangku memilih membawa ikan ke Banda Aceh karena harga jual di sana lebih tinggi.

“Kadang-kadang kita enggak kebagian.”

Bagi Yuni, persoalan ini bukan hanya soal bisnis pribadi. Ia melihat bagaimana hasil laut dari Sabang terus keluar tanpa sempat memberi nilai lebih bagi masyarakat lokal. Karena itu, ia bermimpi memiliki cold storage yang lebih besar agar bisa menyimpan stok ikan sendiri saat pasokan melimpah. “Penginnya ada cold storage untuk nyimpan ikan,” ujarnya.

Harapan itu juga berkaitan dengan mimpinya yang lebih besar: agar hasil laut Sabang tidak hanya dijual mentah keluar daerah. “Ikan kalau kita olah dari kita beli 100 kilo bisa jadi 200 kilo,” jelasnya. Bagi Yuni, pengolahan berarti membuka nilai tambah sekaligus membuka pekerjaan baru.

Hari ini, Anugerah Food mempekerjakan enam ibu rumah tangga di sekitar lingkungannya. Sistem kerjanya dibuat fleksibel agar mereka tetap bisa mengurus rumah dan mencari penghasilan tambahan.

“Bahagia sih kalau misalnya kita kasih kebahagiaan untuk kita juga untuk orang lain.”

Namun di tengah perjuangan itu, Yuni juga merasa UMKM kecil sering dipersulit oleh aturan yang tumpang tindih. Salah satu yang paling ia rasakan adalah kewajiban mengurus sertifikasi halal ganda: halal MPU Aceh dan halal nasional. Harapan Yuni sederhana yaitu usaha kecil diberi ruang untuk tumbuh tanpa terlalu dibebani birokrasi.

Meski begitu, Yuni tetap berjalan pelan membangun Anugerah Food. Dari usaha itu, ia berhasil membantu membiayai pendidikan anak-anaknya. Menariknya, Yuni justru ingin anak-anaknya menjadi pengusaha seperti dirinya. Satu anaknya kini belajar perikanan tangkap. Yang lain mendalami bidang IT. Ia berharap suatu hari nanti mereka bisa melanjutkan dan mengembangkan usaha keluarga ini.

Yuni masih menyimpan banyak mimpi. Ia berharap dapat membuka pusat oleh-oleh khas hasil laut Sabang, hingga membawa produknya keluar negeri. Namun lebih dari itu, Yuni sebenarnya sedang memperjuangkan sesuatu yang lebih sederhana, yaitu agar hasil laut dari tempatnya sendiri tidak terus pergi begitu saja. Agar masyarakat yang hidup paling dekat dengan laut juga bisa tumbuh dari lautnya sendiri.


Penutup Reflektif

Yuni percaya kesejahteraan masyarakat pesisir tidak hanya lahir dari laut yang melimpah, tetapi dari kesempatan untuk mengolah, bertumbuh, dan hidup layak dari hasil laut mereka sendiri.


Share ke Media Sosial:

Suara Lainnya

Satu Juta Mangrove: Karya Sunyi Misin di Pesisir Jakarta

Satu Juta Mangrove: Karya Sunyi Misin di Pesisir Jakarta

Dalam senyap kerja tangannya, tertuang harapan kembalinya ekosistem laut yang kaya.

Regina Virza 21 May 2026
Baca Selengkapnya
Menanam di Lahan Orang Lain, Memanen Utang Sendiri

Menanam di Lahan Orang Lain, Memanen Utang Sendiri

Cerita Adis merupakan satu dari banyak cerita petani yang harus menyewa lahan, dan akhirnya hanya punya tumpukan utang di panen berikutnya.

Regina Virza 21 May 2026
Baca Selengkapnya
Menganyam Hari Tua di Pantai Pulau Pari

Menganyam Hari Tua di Pantai Pulau Pari

Di tengah laut yang berubah, penghasilan yang tak menentu, dan hidup yang tak selalu berpihak, Wak Leha terus mengupayakan masa tua yang lebih tenang dengan tangannya sendiri.

Martya Litna 13 May 2026
Baca Selengkapnya