Satu Juta Mangrove: Karya Sunyi Misin di Pesisir Jakarta
Kembali

Satu Juta Mangrove: Karya Sunyi Misin di Pesisir Jakarta

Dalam senyap kerja tangannya, tertuang harapan kembalinya ekosistem laut yang kaya.

Regina Virza
21 May 2026

Sebuah gerakan besar seringkali berawal dari denyut personal, bukan proyek yang didanai atau diinstruksikan dari meja hijau. Demikian pula dengan apa yang dilakukan Misin. Karyanya bukanlah program, melainkan sebuah panggilan jiwa.

Perawakan Misin sangat sederhana, dari pakaian yang ia kenakan, gerak gerik tubuhnya, hingga ekspresi di wajahnya. Ia tidak khawatir menampakan senyumnya, meski giginya sudah tidak lengkap lagi. Setiap guratan pada kulitnya adalah arsip cuaca dan waktu. Jemarinya menebal, kapalan oleh ribuan ayunan dayung di Teluk Jakarta.

Ia adalah sosok yang tak terpisahkan dari lanskap Pulau Pari; selama 15 tahun terakhir, Misin sudah menanam ribuan pohon mangrove dengan luas sekitar 1 Km. Pohon-pohon itu menancap di bagian utara Pulau Pari, tingginya sudah di atas pinggul manusia dewasa.



Misin menunjukan lima bibit mangrove yang ia banggakan, harapannya untuk masa depan Pulau Pari


Semua bermula dari sebuah perenungan mendalam: "Sebagai orang pulau, apa sih yang harus 

Saya perbuat untuk pulau." Pertanyaan itu menggema di benaknya, di tengah realita hidup yang ia terima dengan lapang dada. "Karena saya orang yang tidak mampu, orang miskin," akunya dengan rendah hati. Dengan modal yang sedikit, tidak banyak yang bisa ia lakukan. Pilihannya jatuh pada menanam mangrove di sela-sela waktu memancing.

Dulu, ia tidak perlu susah-susah memikirkan mangrove, apalagi sampah. Sebagai nelayan tradisional, Wa Misin biasa menangkap ikan-ikan kecil di perairan dangkal. Hidupnya cukup menangkap kepiting, sero, dan udang atau kerang dengan bubu kecil di dekat pohon mangrove atau pesisir laut.

Namun, kini ia berhadapan dengan ancaman ekologis yang nyata. Sejak direklamasi, pohon-pohon bakau semakin berkurang, wujudnya pun sudah jarang ditemukan. Akibatnya, hasil tangkapan ikan berkurang setidaknya 20%; "10 jam mencari 10 kilogram ikan saja, itu sangat sulit," keluhnya.

Kesadaran akan hasil tangkap yang kian menyusut melatarbelakangi upaya Misin menanam bakau. Aktivitas yang semula hanya "hobi", telah mekar menjadi sebuah "kerja nyata" yang memberinya kebanggaan pribadi.

Ia berambisi untuk menanam 1 juta pohon bakau di Pulau Pari, namun saat ditanya ‘Kira-kira sekarang sudah menanam berapa banyak?’, ia hanya bergurau “Tidak dihitung, nanti waktunya habis buat berhitung saja.”.

Namun, karya yang berakar pada ketulusan ini tak selamanya berlayar di air tenang; ia adalah sebuah perjuangan melawan gelombang plastik dan limbah yang tak pernah ada habisnya. Sampah-sampah terjebak di batang pohon bakau muda, menghambat pertumbuhannya. Seharian di laut memungut sampah pun, rasanya sampah itu malah semakin menumpuk.

Area penanaman pohon Mangrove Misin terasing dari pantai kebanggaan Pulau Pari, seperti Pantai Pasir Perawan dan Pantai Bintang. Bahkan area ini dianggap ‘aib’, karena tumpukan sampah telah menggunung entah bagaimana mengolahnya. Masalahnya sampah yang datang bukan cuma yang kecil-kecil seperti bungkus plastik, kadang ada juga bangkai kasur yang terbawa arus, akhirnya hanya ditumpukan saja.

Namun, Misin menolak untuk mundur, tetap mengupayakan Pulau Pari yang pohon bakaunya rimbun seperti dulu. Ketakutan eksistensialnya memuncak saat menyaksikan pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu perlahan tenggelam, ditelan laut karena tak memiliki benteng bakau. Kecemasan itu terangkum dalam ucapannya "Saya takut dunia belum habis, pulau saya sudah habis."

Ia menyaksikan orang pulau terancam “tidak punya pulau," warga asli terdesak, terpaksa mengontrak di tanah kelahiran mereka sendiri, nelayan harus alih profesi atau kerja serabutan seperti dirinya. Ini adalah perjuangan melawan keterasingan di rumah sendiri.

Meski setiap tancapan bibit Mangrove berusaha mengembalikan kehidupan pesisir di Pulau Pari, namun, tanpa surat izin Misin bisa terancam hukum administratif. Berdasarkan Pasal 16 dan Pasal 17 dalam UU no. 27 tahun 2007 berbunyi “Setiap orang yang memanfaatkan ruang pesisir, termasuk menanam atau mengelola kawasan wajib memiliki izin lokasi dan izin pengelolaan”.

Misin ingin punya izin agar lebih leluasa mengelola pohon-pohon mangrove-nya “Tapi, saya harus kemana ya minta izinnya? Saya kan nggak tahu, soal hukum-hukum ini awam. Saya pikir yang penting ada manfaatnya aja.” jawabnya polos.

Meski hanya punya ijazah sekolah dasar, Misin berhasil merumuskan tiga hal penting bagi masa depan pohon bakau, ia sebut dengan P3E (Perlindungan, Pelestarian, Pengembangan dan Ekonomi), sambil berkelakar ia mengatakan “Nah, untuk ekonominya, saya belum tahu bisa jadi apa...”.

Misin berharap akan ada uluran tangan dari pemerintah, penyediaan "penyubur" untuk mempercepat pertumbuhan karyanya. Dukungan itu, dalam bahasanya yang lugas, "boro-boro" ada. Di tengah kepungan masalah inilah Misin mendefinisikan kembali esensi perjuangannya, melalui sebuah pilihan sadar antara mencari penghasilan atau melahirkan sebuah karya.

Atas upayanya Misin berhasil mendapatkan penghargaan dari UNESCO. Namun, bagi Misin warisan bukanlah plakat penghargaan. Warisan adalah keberlanjutan. Itulah mengapa ia memilih untuk "berkarya", karena ia yakin karya memiliki umur yang lebih panjang. Ia lebih bangga jika kelak orang mengenang rimbun bakaunya daripada menerima piagam yang ia anggap sebagai "beban".

Sertifika

Usaha seorang Misin mengembalikan ekosistem Pulau Pari diakui UNESCO sejak tahun 2002, namun belum ada uluran tangan untuk mendukung misi mulianya.

Visi mulia ini berhadapan dengan tantangan terbesarnya: regenerasi. Ia kesulitan mencari penerus yang "sehati", yang bisa merasakan panggilan serupa. Namun, di balik kesulitan itu terpancar empati yang mendalam. Ia paham bahwa generasi muda masih harus "berjuang untuk hidup dulu." Saat merekrut, ia tidak menuntut komitmen buta; "Keluarganya dulu yang kita pikirkan," ujarnya, menyoroti dilema tajam antara melestarikan masa depan dan bertahan hidup hari ini.

Di tengah segala perjuangan itu, Misin telah menemukan kekayaan sejati. Baginya, hidup sejahtera bukanlah tentang harta yang melimpah, melainkan tentang "pikiran tenang, hati tenang." Di sela-sela desau angin laut dan rimbunnya dedaunan mangrove, ia menemukan kedamaian yang tak ternilai. Ketenangan batin inilah harta karunnya, sebuah kesejahteraan yang terpancar jelas dari sorot matanya yang teduh dan wajahnya yang merekam lautan.

Misin dan mangrove
Misin bukanlah pahlawan super, ia hanyalah seorang nelayan yang tindakannya menjadi luar biasa karena didasari oleh ketulusan, rasa syukur, dan cinta yang mendalam pada pulaunya. 

Ada satu hal yang membekas dari karakter Misin, seberat apa pun topiknya, mulai dari pulau yang terancam tenggelam hingga komunitas yang terdesak, ia selalu mengakhirinya dengan seulas senyum. Senyum itu bukanlah tanda kepasrahan, melainkan simbol keikhlasan yang lapang, sebuah penerimaan utuh terhadap takdir, dan keyakinan teguh pada karya hidupnya. Dalam senyumnya, tersimpan sebuah harapan sunyi yang ia tanam bersama setiap bibit bakau di pesisir Jakarta.

Penutup Reflektif

Kebijakan reklamasi dan pengelolaan pulau-pulau kecil masih belum melibatkan mereka yang kehidupannya bergantung pada kesuburan ekosistem laut. Inisiatif personal seperti yang dilakukan Misin seharusnya didukung untuk memperbaiki kerusakan yang timbul akibat kebijakan-kebijakan tersebut. Ironisnya, aturan yang kurang jelas kelak bisa menjerat mereka yang berusaha memperbaiki alam.


Share ke Media Sosial:

Suara Lainnya

Menanam di Lahan Orang Lain, Memanen Utang Sendiri

Menanam di Lahan Orang Lain, Memanen Utang Sendiri

Cerita Adis merupakan satu dari banyak cerita petani yang harus menyewa lahan, dan akhirnya hanya punya tumpukan utang di panen berikutnya.

Regina Virza 21 May 2026
Baca Selengkapnya
Mimpi Besar dari Bukit di Pinggir Laut

Mimpi Besar dari Bukit di Pinggir Laut

Berawal dari keresahan melihat ikan terbuang dan dijual murah, Yuni membangun Anugerah Food agar hasil laut Sabang bisa memberi kehidupan lebih sejahtera bagi masyarakat sekitarnya.

Martya Litna 19 May 2026
Baca Selengkapnya
Menganyam Hari Tua di Pantai Pulau Pari

Menganyam Hari Tua di Pantai Pulau Pari

Di tengah laut yang berubah, penghasilan yang tak menentu, dan hidup yang tak selalu berpihak, Wak Leha terus mengupayakan masa tua yang lebih tenang dengan tangannya sendiri.

Martya Litna 13 May 2026
Baca Selengkapnya